F-35 Lightning II

 

f-35 6
F-35 Lightning II, harapan masa depan AL,AU,dan Marinir AS

Initial Operation Capability buat F-35 belum dapat dicapai jika hasil evaluasi dari 422nd  TES (Test and Evaluation Squadron) belum menunjukkan hasil memuaskan bagi pengganti bagi penganti hampir seluruh pesawat tempur di Amerika. 422nd  TES adalah sebuah super squadron yang bermarkas di Nellis AFB , Nevada. Memiliki 50 pesawat kombatan Amerika dari berbagai jenis. 11 diantaranya adalah F-35, dan sisanya adalah F-22, F-15 Eagle, F-16 Fighting Falcon, dan A-10 Thunderbolt II. Skuadron ini dikomandani oleh Lt Col Joshua “Dog” Wood. Skuadron supernya merupakan pendukung kunci untuk taktik, prosedur, dan teknik bertempur yang bahkan bisa dilakukan oleh “Blue Four”(Wingman dengan sangat sedikit pengalaman tempur. “Inovating, Test, and Teach” merupakan motto skuadron ini. Selain semua kehebatan itu, sebenarnya tugas skuadron ini cukup berat, karena harus menentukan apakah suatu pesawat sudah memenuhi permintaan para pembayar pajak. Tugas mereka adalah untuk menenttukan apa yang bisa dilakukan, butuh bantuan untuk melakukan, dan yang tidak bisa dilakukan F-35 sehubungan dengan misi utama pesawat ini yaitu CAS (Close Air Support), SEAD (Suppression of Enemy Air Defenses), dan interdiction. Jika hasil tes mereka masih menunjukkan jempol terbalik bukan tidak mungkin IOC bagi F-35 akan tertunda kembali.

 

f-35 5
F-35 B yang akan digunakan oleh Marinir AS

Sesuatu yang patut diapresiasi adalah pengembangan software dan hardwarenya berjalan parallel. Ketika pengembangan hardware dari F-35 mentok, maka yang diandlakan adalah softwarenya. Secara fisika, tidak ada perubahan aerodinamika diantara blok terbaru F-35, blok 3IR6, dengan blok sebelumnya.Yang berubah adalah flight envelope dan kemampuan membawa senjatanya. Fokus untuk pengembangan F-35 adalah bagaimana ia bisa berkoordinasi dengan pesawat- pesawat generasi keempat, sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh kakaknya, F-22 Raptor.

Hal yang menarik dari pengembangan F-35 adalah tentang A-10 yang akan segera memasuki masa pensiun. Para petinggi di AU Amerika sungguh dihadapkan ke dalam dilema. 422nd  TES ditugaskan untuk mencari platform yang tepat untuk menggantikan “Hog”. Misi yang utama dalam penggantian A-10 bukanlah untuk menggantikan misi CAS yang diembannya, akan tetapi misi CSAR yang merupakan spesialisasi misi dari “Hog” itu sendiri. Sebagian besar Warthog Fans merasa keberatan atas dipensiunkannya A-10 adalah karena kemampuannya untuk menghasilakan kerusakan hebat dari 1.150 30mm rounds GAU Avengersnya. Akan tetapi,kita ambil contoh misi CAS di Afghanistan, sebagian besar misi CAS di Afghanistan tidak dilakukan oleh A-10. Bahkan sekarang CAS dilakukan dengan zero rounds atau tanpa peluru samasekali.

Berbicara misi CAS untuk F-35 itu samasekali berbeda dengan A-10. Di A-10, pilot yang berada di 100ft mendeteksi kendaraan rudal musuh, misalnya, mereka hanya bisa berdoa, “Ya Tuhan, biarkan aku menyalesaikan misi ini dengan selamat!”. Tapi tidak di F-35, mereka tidak harus terbang di ketinggian dimana peluru AK-47 bisa membuatmu Killed in Action. Kita berbicara tentang terbang tinggi menghindari radar dan mengeliminasi musuh bahkan sebelum mereka menyadari kamu disana.

Bagaimana mengatasi keterbatasan senjata yang dibawa? Masalah itulah yang mencuat saat berbicara soal F-35. Taktik pertempuran udara yang akan digunakan oleh Amerika akan sangat bergantung pada jaringan komunikasi antar aset milik mereka. Di taktik yang mereka gunakan, kemungkinan besar F-35 hanya akan menyusup ke daerah musuh dan menjaga agar selalu eyes on target, sedangkan F-18lah yang membawa senjata. Senjata yang diluncurkan F-18 akan diambil alih oleh F-35 untuk diarahkan ke target. Jadi, peran F-18 disini tidak lebih dari truk pengangkut senjata. Konsep seperti ini dinamakan konsep Naval Integrated Fire Control-Counter Air (NIFC-CA).

 

f-35 3
Weapon Bay F-35

Tantangan utama bagi NIFC-CA adalah data-link. Setiap pesawat terhubung ke setiap pesawat lain di wing udara kapal induk melalui E-2D, yang bertindak sebagai titik pusat. E-2D juga terhubung ke kapal induk dan sisa gugus tugas – membuat pesawat ini sebagai aset krusial bagi angkatan laut di masa depan. Secara efektif, dengan NIFC-CA, kelompok gugus tugas kapal induk akan mampu menutupi ratusan mil dari wilayah dengan senjata dan sensor. Angkatan Laut telah bekerja selama setengah dekade terakhir untuk mengembangkan teknologi data-link yang diperlukan untuk melaksanakan rencana ambisius NIFC-CA.

Tetapi dengan perkembangan bentuk gelombang Tactical Targeting Network Technology (TTNT) yang dirancang oleh Rockwell Collins, sebuah platform individu tidak selalu perlu untuk menghasilkan track sendiri. Sekarang dengan TTNT di MIDS-JTRS [multifunctional information distribution system joint tactical radio system], data dapat dipindahkan bolak-balik. Gelombang TTNT memungkinkan untuk kecepatan data yang sangat tinggi dan memiliki latency yang sangat rendah, sehingga ideal untuk berbagi data dalam jumlah besar pada jarak jauh, seperti yang ditunjukkan selama Percobaan Joint Expeditionary Force pada tahun 2008 di Nellis Air Force Base, Nevada.

 

f-35 4
Pembuatan F-35

Untuk keperluan NIFC-CA, TTNT akan menghubungkan bersama pesawat terbang kelompok gugus tugas kapal induk E-2DS, EA-18Gs, kapal induk sendiri dan akhirnya UCLASS(Unmanned Carrier Launched Airborne Surveillance and Strike). E-2D akan berbagi bagian tertentu dari data mereka dengan EA-18G Growler, yang juga akan dihubungkan melalui jaringan TTNT atau potensi sebuah varian dari Link-16 data-link. EA-18G akan menggunakan varian canggih yang disebut Concurrent Multi-Netting-4 (CMN-4), yang pada dasarnya adalah beberapa Link-16 “ditumpuk” di atas satu sama lain. Dengan empat penerima radio, data dapat dipindahkan dengan mudah.

Growler akan saling berkoordinasi menggunakan data link mereka ke tepat menemukan transmisi radar ancaman di darat atau di permukaan laut dengan menggunakan teknik yang disebut time distance of arrival (TDOA). Mereka dapat menemukannya sampai ke sebuah lokasi yang cukup dimana dapat ditempatkan senjata ke lokasi tersebut. Selain itu, Growlers dengan data-link yang dikoordinasikan juga bisa menggunakan teknik yang sama untuk menghilangkan aset peperangan elektronik musuh yang mungkin mencoba untuk menyerang jaringan pertempuran NIFC-CA. Ketika sensor secara luas disebarluaskan, seperti dua E-2D atau dua Growler, tidak bisa semuanya diganggu (jammed). Jika satu diganggu secara keras, sistem lain di sini bisa melihat, juga bisa melacak pengganggu, bisa melihat dari mana energi berasal dan kemudian menyerang si pengganggu.

 

 

SF2
Komponen dalam NIFC-CA

Untuk mengeliminasi sasaran setelah diketahui lokasinya – di udara, di darat, atau mengambang di permukaan laut – Growler atau E-2D akan menyampaikan melalui Link-16 untuk salah satu dari Super Hornet, yang akan sebenarnya menghancurkan ancaman.Super Hornet bahkan tidak perlu menyalakan radarnya, mereka hanya menerima data ini. Selain itu, F / A-18E / F bahkan tidak diperlukan mengontrol senjata yang diluncurkan – selain menarik pelatuk. E-2D, EA-18G atau bahkan Hornet lain atau F-35C bisa memandu senjata itu.

Tapi sementara jaringan adalah kekuatan besar dari konsep NIFC-CA, mereka juga merupakan sumber kerentanan. Khususnya, untuk F-35C, yang Angkatan Laut berencana untuk digunakan sebagai platform ISR jarak jauh, masih perlu data-link yang aman dengan probability of intercept rendah untuk menyampaikan informasi kembali ke armada.Perlu untuk memiliki kemampuan link yang musuh tidak dapat menemukan dan kemudian tidak bisa mengganggunya. Link selalu menjadi kelemahan, dan perlindungan link adalah salah satu atribut kunci.

Jaringan NIFC-CA akan dibangun dengan redundansi sehingga armada dapat terus beroperasi di bawah serangan elektronik atau cyber. Adalah sangat sulit untuk mengganggu link di area geografis yang luas. Jika Anda akan mengambil mata kita sepenuhnya, Anda [harus] mengambil ruang.Cina, misalnya, telah menunjukkan kemampuan untuk menghancurkan satelit yang mengorbit, dan memiliki berbagai kemampuan sendiri cyber dan perang elektronik. Menyadari bahwa serangan itu bisa mungkin, Angkatan Laut telah mengembangkan cara untuk mengurangi hilangnya komunikasi berbasis ruang. Upaya mitigasi dibangun ke dalam sistem senjata sehingga dapat membuat jaringan line-of-sight (LoS).

SF1
Link data yang menghubungkan tiap komponen dalam NIFC-CA

Namun, seperti bagaimanapun menjanjikan bangunan NIFC-CA terdengar, itu adalah upaya yang sangat ambisius dan masih ada potensi kelemahannya. Salah satu masalah utama yang diangkat oleh sejumlah pakar adalah potensi ketergantungan yang berlebihan pada jaringan. Seperti seorang pilot yang sangat berpengalaman menunjukkan, bahkan jika jaringan NIFC-CA cukup besar bahwa seluruh sistem tidak dapat macet pada satu waktu, bukan berarti helai individu web tidak dapat dipotong. Bahkan jika hanya beberapa elemen individual dari jaringan NIFC-CA terganggu, dapat secara serius mempengaruhi distribusi data, katanya.

Penggantian A-10 ke F-35 lebih berdasarkan kemampuannya dalam melaksanakan misi CSAR yang merupakan salah satu spesialisasi misi dari A-10. Keberhasilan F-35 dalam melaksanakan misi CSAR merupakan sebuah kejutan. Hal itu terjadi saat latihan yang bertajuk Green Flag. Saat itu, sebuah F-35 dipiloti oleh seorang A-10 WIC IP(Weapons Instructor Course Instructor Pilot) dan CSAR IP. Ini menunjukkan bahwa sebenarnya bukan masalah platform apa yang digunakan untuk menyelesaikan suatu misi, tetapi man behind the gun-lah yang membawa pengaruh yang signifikan.

 

f-35 1
F-35 A

Kalau membandingkan sebuah benda itu harus apple to apple. Soal F-35 tidak bisa dogfight itu memang ia tidak pernah dibuat untuk itu. Doktrin pembuatan F-35 adalah bagaimana suatu pesawat bisa masuk ke suatu area tanpa musuh menyadarinya. Toh F-35 tidak butuh dogfight untuk menembakkan sidewindernya. Lightning sudah dilengkapi JHMCS(Joint Helmet Mounted Cueing System), jadi pesawat musuh akan tetap bisa locked on tanpa harus mengarahkan hidung pesawat tersebut ke target. Seperti saat F-4 (Wild Weasel) akan digantikan oleh F-16, banyak yang kontra. Sekarang F-16 berjaya lebih dari 40 tahun. Jadi, jangan terlalu remehkan pesawat ini. Saya kira ini bukan produk gagal. Terlalu dini jika kita menilai pesawat ini saat ini, dan pengembangan pesawat ini terus dilakukan.

 

SUMBER

Majalah Combat Aircraft edisi April 2016

Pertempuran Udara Abad 21, jakartagreater.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s